Trinitas Sepak Bola: Klub, Kompetisi, dan Timnas

Share on Facebook85Share on Google+0Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0
Jerman Piala Dunia 2014

Doktrin Trinitas (frasa Latin untuk Tritunggal) dalam liturgi Kristiani dipandang sebagai pengejewantahan konsep Ketuhanan Allah yang Esa dalam tiga pribadi. Dalam kajian teologi dan filsafat keagamaan, kita kaum awam kemudian mengenalnya sebagai hipostasis, yang kurang lebih memaknai bahwa Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus adalah tiga pribadi dalam satu sosok Allah yang bersinergi dalam rupa Trinitas.

Dalam konteks yang lebih mendasar menyangkut tentang sepak bola, saya mencoba menyederhanakan konsep Trinitas tersebut dalam sebuah hal pokok menyoal sepak bola. Ketiganya adalah klub, kompetisi dan timnas. Kendati hanya hal dasar, tiga komponen utama yang harus bersinergi dalam sepak bola ini, acapkali tidak berjalan dengan baik. Ketiganya kerap tidak sinkron satu sama lain karena ketiganya harus berjalan dengan baik agar mewujudkan sinkronisasi yang baik dan menghasilkan proses yang berjalan rapi, terstruktur dan sistematis.

Sebagai contoh, kita akan coba menelaah bagaimana dominasi dua negara kiblat sepak bola dunia, Spanyol dan Jerman, dalam kesuksesan mereka menjuarai dua edisi terakhir Piala Dunia dengan core yang berisi pemain-pemain yang berlaga di kompetisi domestik. Kesuksesan Spanyol di Afrika Selatan (Afsel) 2010 lalu dan Jerman empat tahun kemudian di Brazil adalah simbol nyata bahwa kualitas suatu timnas bersinergi dengan bagaimana kebijakan klub dan iklim kompetisi profesional berjalan dengan baik.

Spanyol (Piala Dunia 2010)

Dari 23 nama yang dibawa Vicente del Bosque ke Afsel, hanya tiga pemain yang berasal dari kompetisi di luar La Liga. Hanya Fernando Torres dan Pepe Reina (dari Liverpool) dan Francesc Fabregas (dari Arsenal).

Keputusan membawa pemain yang berkompetisi di domestik membuat nuansa timnas menjadi sangat kental dengan gaya bermain khas Iberia ala Spanyol yang rancak dan sedap ditonton. Implementasi taktik operan bola pendek dan penguasaan bola menjadi hal mudah yang diterapkan di timnas karena inti pemain yang diturunkan tiap laganya adalah pemain-pemain domestik di La Liga yang terbiasa bermain dengan permutasi posisi dan umpan pendek, serta mengutamakan penguasaan bola.

Dari skuat di partai final 2010, del Bosque menurunkan tujuh pemain Barcelona, tiga pemain Real Madrid dan satu pemain Villareal (atas nama bek kiri Joan Capdevilla) sebagai pemain inti di partai puncak. Fernando Torres yang tengah gemilang bersama Liverpool dan Cesc Fabregas yang notabene adalah kapten Arsenal, hanya turun sebagai pemain pengganti.

Melihat daftar pemain tersebut, terlepas kesuksesan dan kedahsyatan Spanyol dalam menguasai dunia dan Eropa sejak 2008 sampai 2012, kita akan bisa menarik satu kesimpulan penting. Kompetisi domestik dan peran klub lokal sangat signifikan untuk prestasi timnas dalam suatu masa.

Kesuksesan Spanyol, yang sedikit banyak terbantu dengan dominasi Barcelona dan Pep Guardiola sejak 2008, perlu dicermati bukan hanya sebagai efek masterplan jenius Pep dengan juego do posicion-nya semata, tapi juga kontinuitas keberhasilan La Liga dalam memproduksi kualitas liga yang semakin baik (walau didominasi poros Madrid dan Catalan), dan keberhasilan suatu klub dalam memproduksi pemain-pemain muda lokal yang kelak menjadi tulang punggung timnas (La Masia di Catalan dan Castilla di Madrid, misalnya).

Ini contoh nyata kesuksesan sinergi dari Trinitas sepak bola seperti yang saya sebut di atas, bagaimana klub, kompetisi dan timnas akan saling melengkapi satu sama lain dengan sinergi yang bagus dan menghasilkan prestasi besar yang membanggakan seantero negeri. Sebuah prestasi, yang hebatnya, direplikasi Jerman dan DFB (PSSI-nya Jerman) dengan prestasi tinggi empat tahun kemudian di tanah Amerika.

Jerman (Piala Dunia 2014)

Sudah banyak literasi yang menyebutkan proyek pengembangan sepak bola Jerman yang diinisiasi paska kegagalan di Euro 2000. Beberapa di antaranya menyangkutkan dengan perubahan di akademi, pengembangan pemain muda sampai kualitas kompetisi yang semakin berkualitas.

Sejak 2004, jumlah pelatih berlisensi di Jerman sudah menembus angka 50-60 orang. Per 2007 saja, Jerman sudah mewajibkan tim-tim dari Bundesliga dan Bundesliga 2 rutin menyertakan pemain akademinya dalam kompetisi junior. Progres ini dipandang penting untuk stimulus perkembangan mental dan taktik pemain dalam tumbuh kembang karir mereka ke depannya.

Efek pertumbuhan kualitas kepelatihan juga terasa pada medio selepas 2010 dengan banyaknya pelatih-pelatih muda berkualitas yang muncul di Jerman. Juergen Klinsmann dan Joachim Low jelas menjadi yang terdepan. Keduanya menjadi tonggak suksesi kepelatihan Die Mannschaft. Di belakang dua pelatih flamboyan tersebut, Jerman memunculkan Roger Schmidt (semasa di RB Salzburg), Juergen Klopp (semasa di FSV Mainz dan kini di Liverpool) hingga Andre Schubert (eks pelatih Borussia Moenchengladbach), Thomas Tuchel (di Borussia Dortmund) dan Julian Nagelsmann, pelatih kepala TSG Hoffenheim yang masih berusia 29 tahun. Sekadar trivia, Manuel Neuer, kiper utama tim Panser Jerman saja, berusia setahun lebih tua dari Nagelsmann. Ini fakta sahih bahwa Jerman tumbuh dan melaju dengan cepat dan progresif.

Dari efek kompetisi, kanal Youtube yang dimiliki Bundesliga juga mampu mengemas konten dengan apik dan eye-catching. Mereka menyedot banyak atensi dengan video dan segala pernak-pernik yang terjadi di Bundesliga dengan pengemasan yang menggugah visual dan menyenangkan untuk ditonton berkali-kali tiap pekannya.

Dan hasilnya, 2014 adalah titik awal dari proyek jangka panjang yang disinergikan antara klub, kompetisi dan timnas dengan baik. Juara di Brazil dengan cara yang megah. Menghancurkan tuan rumah dengan telak di semifinal, mengantar Miroslav Klose menjadi all time top scorer di gelaran Piala Dunia sampai menjadi satu-satunya tim dari Eropa pertama yang mampu juara di tanah Amerika.

Apa yang dilakukan Low dan timnas Jerman, adalah buah dari proyek jangka panjang. Dan itu terbantu dengan kehadiran tim-tim mapan seperti Bayern Muenchen, sebagai contoh. Dari 11 pemain yang turun sebagai pemain inti di final, enam pemain berasal dari Die Roten. Bahkan, tiga kapten yang dipilih Low sebagai kapten Jerman semuanya adalah pemain Bayern, yakni Philip Lahm, Bastian Schweinsteiger (vice-captain) dan Manuel Neuer sebagai kapten ketiga.

**

Trinitas antara tiga komponen utama yaitu klub, kompetisi dan timnas harus saling bersinergi dan membentuk simbiosis yang harus bersifat mutualisme. Tidak boleh tidak. Ini wajib dan tidak boleh ditawar dengan pledoi apapun.

Thailand sudah mereplikasi upaya Jerman dengan skuat Piala AFF 2016 yang berisi 8 dari 11 pemain utama berasal dari Muangthong United. Sebuah langkah ke depan yang luar biasa bagi sepak bola Negeri Gajah Putih untuk menancapkan dominasinya sebagai kekuatan tunggal yang luar biasa di konstelasi sepak bola Asia Tenggara.

Saya, juga Anda sekalian para pembaca, tentu punya mimpi yang sama, bahwa negara tempat kita tinggal dan menetap ini, punya gairah dan ambisi yang sama untuk mereplikasi langkah Jerman dan Spanyol serta Thailand, bukan?

comments